Sejarah Pulau Jawa Serta Kerajaan Nusantara

Zaman Keemasan Kerajaan Islam Nusantara

Samudera Pasai

sejarah pulau jawa terkait dengan kerajaan samudera pasai

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki sejarah panjang. Dimulai dari zaman kerajaan, zaman penjajahan, hingga zaman kemerdekaan, Indonesia memiliki segudang cerita yang patut untuk kita ingat sebagai bahan refleksi tentang bagaimana negara kita tercinta bertahan sampai sekarang. Apalagi jika Anda seorang siswa yang memiliki tanggung jawab untuk mencari ilmu, sejarah perjalanan Indonesia harus diketahui sebagai bekal untuk menyongsong masa depan. 

Pada zaman kerajaan, Indonesia sendiri memiliki beberapa kerajaan besar yang tersebar dari Sabang sampai ke Merauke. Kerajaan ini pun memiliki filosofi dan cara pandang tersendiri terhadap masa depan mereka pada saat itu. Sejarah pulau Jawa dari beberapa kerajaan di Indonesia, banyak dari mereka yang menggunakan Hindu dan Budha sebagai agama resmi. Dalam perkembangannya, saat para orang-orang dari Timur Tengah melakukan ekspedisi dan berlayar ke Indonesia, mereka pun membawa pengaruh Islam. Alhasil, beberapa kerajaan pun menggunakan agama Islam sebagai agama resmi mereka.

Samudra Pasai adalah kerajaan islam pertama di Indonesia yang didirikan oleh Mizamuddin Al Kamil pada tahun 1267. Nizamuddin Al Kamil merupakan seorang pemimpin sebuah angkatan laut yang berasal dari Mesir. Saat dia berlabuh di pantai utara Sumatera, tepatnya di daerah Lhokseumawe, dia mulai menguasai perdagangan rempah dan lada. Untuk itu, dia pun mulai mendirikan kerajaan Islam guna memperluas pengaruhnya.

Masa Keemasan Kerajaan Samudera Pasai

Setelah sempat menjadi raja pertama di kerajaan Samudera Pasai, Izamuddin Al Kamil pun wafat. Setelahnya, muncul beberapa raja penerus yang tak hanya memastikan Samudera Pasai tetap berjalan, tetapi mencapai puncak zaman kejayaan. Di bawah ini merupakan zaman keemasan kerajaan Samudera Pasai di bawah kepemimpinan beberapa raja.

  • Sultan Malik Al Saleh 

Raja ini memimpin Samudera Pasai mulai dari tahun 1267 hingga ke tahun 1297. Pada saat itu, raja yang memiliki nama asli Meurah Silu ini berhasil memimpin pasukannya untuk menguasai Selat Malaka. Selat yang menjadi perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia ini merupakan sebuah posisi krusial karena menjadi pusat perdagangan internasional yang banyak disinggahi oleh pelayar dari seluruh dunia. Pada zaman tersebut, kerajaan Samudera Pasai berhasil menjadi eksportir lada, sutra, dan juga kapur barus kelas internasional.

  • Sultan Muhammad Az Zahir

Pasca lengsernya Sultan Malik Al Saleh karena kematiannya di tahun 1297, Sultan Muhammad Az Zahir yang merupakan putra dari mendiang sang raja naik tahta. Pada masa kepemimpinannya, ia berhasil mempertahankan Selat Malaka sebagai pusat perdagangan internasional. Tak hanya itu saja, sang raja muda ini juga memperkenalkan koin emas sebagai mata uang untuk pertama kalinya. Ya, kerajaan Islam ini menggunakan Dirham sebagai mata uang resmi.

Mata uang Dirham memiliki diameter 10 mm dengan berat tak kurang dari 1 gram. Desainnya sederhana, tapi cukup kompleks karena kedua sisi koin memiliki ukiran. Pada satu sisi, koin emas ini memiliki tulisan Muhammad Malik Al Zahir sedangkan di baliknya, terdapat tulisan Al Sultan al Adil yang merupakan pengingat bahwa seorang sultan harus adil terhadap rakyatnya.

  • Sultan Mahmud Malik Az Zahir

Selanjutnya, tahta kerajaan berlanjut ke tangan Sultan Mahmud Malik Az Zahir yang menegaskan bahwa Samudera Pasai merupakan sebuah kerajaan yang memiliki perdagangan yang maju dan diperhitungkan di kancah internasional. Tak hanya beroperasi di Selat Malaka saja, kerajaan ini juga menjalin kerjasama dengan China dengan melakukan impor beberapa jenis barang dari sana. Akan tetapi masa kepemimpinan Sultan Mahmud Malik Az-Zahir tidak terlalu lama, yakni pada medio 1326 hingga 1345 saja.

Faktor Kemajuan Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai berhasil mencapai puncak zaman kejayaan dipengaruhi oleh beberapa hal. Tentu, kesuksesannya tidak lepas dari tangan dingin para pemimpin (raja) yang berhasil menyebarkan pengaruhnya ke beberapa wilayah. Berikut ulasan lengkapnya!

  • Aspek Perdagangan

Salah satu aspek penting zaman keemasan Islam nusantara di era kerajaan Samudera Pasai adalah kepiawaian mereka dalam menjalin kerjasama di bidang perdagangan. Berada di dekat Selat Malaka, mereka memiliki koneksi yang apik dengan beberapa pedagang dari berbagai negara, termasuk dari wilayah Timur Tengah seperti Arab, Persia, dan juga Gujarat.

  • Aspek Ekonomi

Kerajaan Samudera Pasai juga piawai dalam melihat kondisi pasar. Saat itu, bangsa Eropa baru mengenal rempah-rempah dan raja Samudera Pasai saat itu mengandalkan Lada sebagai komoditas utama yang dijual kepada para pedagang dari Eropa. Selain lada, beberapa jenis komoditas seperti sutra dan kapur barus juga menjadi penunjang aspek ekonomi.

  • Pertahanan Maritim yang Kuat
kekuatan Maritim Samudera Pasai pada saat itu menjadi yang terkuat sebelum adanya kerajaan Maja Pahit

Aspek terakhir yang juga menjadi kunci kesuksesan kerajaan Samudera Pasari adalah pasukan maritim yang kuat. Berada di pesisir utara pulau Sumatra, berbatasan langsung dengan beberapa negara sekaligus di Selat Malaya, kerajaan Samudra Pasai memiliki pasukan maritim yang kuat sehingga bisa menguasai Selat Malaka sebagai pusat perdagangan internasional pada saat itu. Tanpa pasukan maritim yang kuat, mustahil bagi kerajaan ini bersaing dengan kerajaan lain yang lebih kuat dari negara lain.

Itulah beberapa penjelasan zaman keemasan kerajaan Islam nusantara, khususnya kerajaan Samudera Pasai yang merupakan kerajaan islam pertama yang berdiri di Indonesia. Setelahnya, beberapa kerajaan islam bermunculan di pulau Jawa dan pulau lainnya. Meskipun tidak memiliki pengaruh yang terlalu besar dalam percaturan politik di Indonesia yang saat  itu masih terpecah menjadi beberapa kerajaan Hindu dan Budha, tapi kerajaan islam menjadi cikal bakal negara kita hingga saat ini.

Page: 1 2 3

Agus Sunoto: GHOB Editor

This website uses cookies.